21 Jun 2010

The Mistery of Money and Snail

Author: nurhasnif09 | Filed under: Tinta special for u

Hari ini adalah waktunya untuk berpetualang, sejenak melupakan tugas-tugas sekolah yang sangat melelahkan. Organisasi ROHIS (Rohani Islam) di sekolahku mengadakan acara jalan-jalan. Kegiatan ini diadakan setiap dua tahun sekali dan bisa diikuti oleh semua siswa di SMA ku. Biasanya setelah akhir ujian semester, kali ini aku ingin berpartisipasi. Barang-barang bawaanku sudah siap. Agar tak ada yang tertinggal, aku putuskan untuk mengecek ulang. Motor bebekku sudah dipanaskan dan siap dikendarai. Setelah berpamitan dengan orang tuaku, dengan cepat aku melesat bersama motor bebek kesayanganku.

Saat aku sampai di sekolah, jam menunjukkan pukul 08.00 WIB, rupanya peserta sudah banyak yang datang dan berbaris di halaman depan sekolahku. Sesudah melakukan proses registrasi, aku pun kemudian ikut bergabung masuk dalam barisan. Bersapa dan bersalam-salaman dengan peserta yang ada, terlihat muka-muka yang ceria nan penuh senyuman.

Setelah beberapa menit, peserta nampaknya sudah hadir semua, kurang lebih sekitar lima puluh orang. Panitia memutuskan untuk segera berangkat menuju tempat “para petualang”. Sesudah berdo’a, seluruh peserta diminta naik tranportasi yang sudah disediakan yaitu angkutan kota (angkot), sedangkan aku membawa motor. Berdasarkan kesepakatan panitia, aku tetap harus naik angkot bersama peserta lain. Akhirnya, motorku diserahkan kepada panitia dimana salah satu dari mereka akan membawa motorku.

Mulai dari jalan lurus, berkelok, juga jalan rusak menemani langkah awal petualangan kami. Jalan-jalan kali ini di Pantai Pulau Lahu, salah satu tempat wisata di Lampung. Sekitar pukul 10.00 WIB kami sampai disana, panitia mulai memobilisasi peserta untuk berbaris bertolak belakang dengan pantai. Kegiatan ini dibuka dengan basmallah dan dilanjut dengan tilawah Al-qur’an kemudian peserta dibagi dalam enam kelompok dan aku masuk dalam kelompok terakhir. Tiap kelompok ada yang beranggota tujuh orang dan ada juga yang lebih.

Kelompok kami berjumlah tujuh orang yaitu Asih, Anggun, Anda, Irma, Maryani, Wahyu dan aku. Kemudian panitia meminta tiap kelompok untuk menetukan nama kelompok dan yel-yelnya dalam waktu sepuluh menit. Setelah berdiskusi, akhirnya nama kelompok kami adalah “Semut Asyuhada”. Nama tersebut tercetus dari ide Wahyu, alasan memilih nama itu karena kami diibaratkan seperti makhluk yang sangat kecil dihadapan Allah dan berharap mati syahid dengan keridhoan-Nya. Yel-yel pun sudah kami siapkan untuk unjuk gigi dengan kelompok lain.

Satu persatu dari enam kelompok mulai berjalan menuju medan petualangan dan kelompokku mendapat giliran terakhir. Bermodal basmallah, Petualangan pun dimulai. Dengan hati-hati kami menyusuri jalan, petunjuk jalannya adalah pita plastik yang diikat di badan pohon-pohon kecil. Kalau dilihat dari udara, rute perjalanannya ialah menyusuri jalan yang mirip jalan setapak di samping pantai. Jalan yang  lembab juga kasar sering ditemui, hingga tak jarang sepatu kami terjerembab dalam lumpur. Ada pula pohon besar yang melintang menghalangi jalan, membuat kami harus menundukkan badan, walau begitu kami tetap fokus pada pita-pita penunjuk itu.

Setelah cukup lama berjalan, kamipun mulai merasa lelah, butir-butir keringat berjatuhan dipermukaan wajahku. Ku lihat peserta dikelompokku juga merasakan hal yang sama. Kami sepakat untuk berhenti sejenak, mengisi ion-ion yang mulai berkurang dengan meminum air yang kami bawa. Kemudian, perjalanan pun di lanjutkan. Tak jauh dari tempat kami beristirahat, hanya beberapa meter saja, kami menemukan peristiwa aneh.

“Dilah, berhenti sebentar! Aku menemukan uang seribu rupiah diantara bebatuan itu (sambil menunjuk kearah bebatuan tersebut)” Kata Asih memanggilku, yang kebetulan berjalan dibelakangku.

“Ya sudah, biarkan saja. Itu bukan milik kita.” Sahutku.

“Apa kita infakkan saja? Ini kan uang temuan.” Jawabnya.

Belum sempat aku menjawab, temanku yang berada pada posisi paling belakang melihat ada dua ekor siput yang ukurannya hampir sebesar bola kaki dan kemudian mengambilnya.

“Lucu sekali siput ini, belum pernah aku melihat siput sebesar ini.” Kata Anda, temanku yang menemukan siput itu.

“Kita bawa saja yuk, daripada terlantar seperti itu.” Tambah Wahyu.

Dalam situasi lelah dan bingung juga melihat perjalanan masih panjang, akhirnya kami putuskan untuk membawa uang seribu rupiah dan dua ekor siput tersebut. Petualangan kembali dilanjutkan dan kali ini bersama barang temuan, jalan menanjak penuh bebatuan dan pasir, kemudian genangan air kotor yang mengakhiri petualangan kami.

Subhanallah, hamparan pantai dengan air yang jernih dan suasana yang menyejukkan sudah nampak di depan mata. Kelelahan pun terbayar. Rasa puas menyelimuti lelah yang kami rasakan sebab kami berhasil melewati rintangan dan alhamdulillah tanpa tersesat.

Sampai disana, waktu menunjukkan pukul 12.00 WIB. Sebelum acara refreshing dimulai dan sebelum menikmati pemandangan indahnya laut, aku dan peserta lainnya melaksanakan shalat dzuhur bersama. Kemudian ketika semuanya sudah selesai, acara inti pun dimulai. Karena terbawa dengan materi acara dan permainan-permainan yang luar biasa serunya, kami lupa akan peristiwa aneh yang sebelumnya kami temui.

Penampilan yel-yel tiap kelompok pun ditandingkan. Dengan semangat kami menyuarakannya. Disaksikan oleh deburan ombak dan alam semesta hingga akhirnya yel-yel kami menjadi yel yang terbaik.

Tak terasa, mentari sudah berada di ufuk barat, mulai meredupkan sinarnya, sejauh mata memandang terhampar pemandangan yang begitu indah. Lukisan berwarna merah saga tercermin diatas permukaan laut, lukisan dengan daya kreatifitas sangat tinggi. Betapa indahnya ciptaan-Mu, ya Allah. Belum puas rasanya refreshing tetapi apalah daya waktu sudah sore yang membuat kami harus pulang meninggalkan tempat ini. Ingin rasanya kembali lagi suatu hari nanti.

Para peserta dan juga panitia mulai membereskan barang masing-masing. Untuk mempercepat langkah, kami tidak lagi berjalan berkelompok namun bersama-sama. Tak lupa juga Anda membawa siput temuannya. Uang seribu masih ada di tangan Asih. Berbeda dengan waktu pergi tadi, pulang terasa lebih cepat. Melewati tempat bersejarah itu lagi, biasa saja tak ada rasa yang mengganjal seperti tanpa dosa.

Sampailah kami dengan selamat ditempat paling awal. Angkot sudah siap menjemput kami untuk pulang. Sebelum itu, acara ini di tutup dengan pengecekan jumlah peserta dan do’a penutup yang di pimpin oleh salah seorang panitia.

Kini angkot penuh, terisi oleh kami. Siap jalan pulang ke rumah masing-masing. Di angkot, aku tertarik untuk membicarakan peristiwa aneh yang kami alami. Kebetulan dalam angkot tersebut, ada Anda, Wahyu dan Asih. Banyak yang bertanya, kemudian kami perlihatkan temuan kami. Ada salah seorang adik kelas yang menghubungkan kejadian ini dengan hal mistik.

“Mb, hati-hati loh. Kalau uang seribu dan kedua siput itu milik orang jahat, lalu di jadikan sebagai pencari tumbal bagaimana?” Tanya adik kelasku sambil menghayal. Sepertinya ia terlalu banyak menonton film horor. Kami hanya tersenyum kecut sambil menelan ludah tanda khawatir. Tetapi dalam hati aku berdo’a semoga tidak akan terjadi apa-apa dengan barang temuan ini.

Tepat didepan sekolah, semua peserta yang ada di angkot diturunkan. Beberapa teman ada yang sudah turun lebih dahulu karena rumahnya di lewati oleh angkot. Kegiatan jalan-jalan pun selesai. Siput masih hidup dan dalam keadaan terbungkus yang dipegang oleh Anda, bingung akan di apakan. Terbersit rasa salah dalam hati kami karena sudah melakukan kesalahan. Akhirnya kami sepakat untuk membuangnya di halaman depan sekolah. Ada seorang guru yang melihat kemudian bertanya, ”Ini apa? (sambil membuka bungkusan).”

“Ini siput, pak. Siput ini kami temukan waktu di pantai lalu kami bingung akan di apakan.” Jawab Wahyu seadanya di tambah anggukanku dan teman-teman.

Dari raut wajahnya, seperti tertarik ingin memelihara siput itu. Kemudian ia memintanya dan dengan senang hati kami memberikannya serta ucapan terima kasih yang mengakhiri percakapan kami.

Sebelum aku pulang menuju rumah, terlebih dahulu mengambil motorku dan aku pun mampir ke kos-kosan temanku yaitu kosnya Anggun dan Wahyu untuk membersihkan badan. Setelah selesai, aku dan Asih duduk di beranda, mengingat-ingat kejadian yang telah kami alami sambil mendiskusikan uang seribu rupiah yang statusnya tidak jelas. Kesepakatan terakhir adalah menginfakkan uang tersebut kepada ROHIS agar diserahkan bagi yang berhak menerima.

Begitu aku beranjak untuk pulang, Asih sibuk merogoh tasnya seperti mencari sesuatu. Semua isi tasnya dikeluarkan, mukanya tampak bingung. Pasrah dan berkata pada dirinya sendiri, “Please dimana uangku? Masya Allah, itu uang terakhir yang aku punya.”

“Berapa jumlahnya sih? Coba di ingat-ingat kembali mungkin kamu lupa atau terselip.” Tanyaku mencoba menenangkannya.

“Sebanyak lima puluh ribu rupiah, padahal di pantai tadi masih ada. Sekarang kok tidak ada ya?” tanyanya lagi.

Mendengar perkataan dari Asih, Wahyu yang sedang membereskan kamarnya langsung keluar menghampiri kami berdua, disusul oleh Anggun. Awalnya kami saling betatapan dan mendadak suasana hening. Kebingungan melanda pikiran kami, jalan keluar buntu. Satu-satunya jalan adalah mengikhlaskan uang yang hilang tersebut. Aku, Wahyu dan Anggun mencoba menguatkan Asih dan menawarkan pinjaman uang.

Pertemuan kami berakhir setelah Asih mau menerima tawaran kami. Kebetulan jalan rumahku sejalan dengan rumah Asih, aku pun membonceng dan mengantarnya sampai pertigaan jalan. dan kamipun berpisah.

Petualangan hari ini sungguh menyenangkan dan menyimpan misteri. Ku rebahkan tubuhku, untuk menenangkan pikiran dan menghilangkan lelahku. Tanpa sadar, mata sudah hampir tertutup ingin ke peraduan mimpi, sebuah sentuhan hangat mengejutkanku. Mama menyuruhku untuk makan malam bersama.

Di saat makan malam, untuk menghilangkan kantuk, aku memilih bercerita sambil makan. Saat aku bercerita menemukan hal yang aneh, papaku spontan bertanya, ”Memangnya Dilah jalan-jalan kemana?”. Dilah adalah namaku, Dilah itu panggilan keluarga. “Dilah jalan-jalan ke Pantai Pulau Lahu, pa. Kami melewati hutan, jalan masuk menuju pantai itu.” Jawabku dengan mulut penuh makanan.

Setelah selesai aku bicara, papa bercerita karena hobinya memancing hingga punya banyak teman yang rumahnya dekat pantai. Berdasarkan kabar dari teman-temannya bahwa tempat itu terkenal sebagai tempat pesugihan, tempat untuk mendapatkan harta dengan cara yang ghoib, serentak bulu kudukku merinding. Aku mulai khawatir akan uang seribu yang masih ditangan Asih.

Dengan cepat aku beritahukan kepada sahabat-sahabatku terutama Asih, melalui sms. Sent messages delivered, pesanpun terkirim. Hati gelisah menunggu balasan. Dalam hitungan menit, pesan demi pesan bermunculan dilayar handphone-ku. Banyak yang meragukan informasi dariku. Saat itu aku putuskan untuk melanjutkan pembahasan ini besok pagi di sekolah.

Sepulang sekolah kami sudah berjanji untuk kumpul di mushola. Ketika semua sudah datang, ku mencoba menjelaskan secara urut perjalanan dari awal pergi sampai pulang. Ku lihat raut wajah mereka seperti penuh tanda tanya. Mataku langsung tertuju pada Asih dan ku tanya,”Bagaimana dengan uang seribu rupiah itu? Apakah masih ada padamu?”. “Ya masih ada.” Jawabnya singkat.

Hampir satu jam kami mendebatkan hal ini. Kami ambil jalan tengah dan kami putuskan untuk membuang uang tersebut ke tempat sampah, dengan harapan tidak sampai terulang lagi peristiwa seperti ini. Kami telah bertekad untuk tidak mengambil barang apapun yang kami temui. Spontan kami pun beristighfar, memohon ampun pada-Nya atas kebodohan yang telah kami lakukan. Hati sedikit tenang, akhirnya kami memilih pulang cepat ke rumah masing-masing karena pada hari ini tidak ada agenda rapat juga yang lainnya.

Besoknya kami kembali berkumpul sepulang sekolah. Tepat dibawah pohon yang rindang, ditemani dengan hentakan angin menggulung daun-daun yang berguguran, pemandangan yang natural menurutku. Ku pandang wajah teman-temanku, semua tampak ceria, sepertinya pengalaman aneh yang telah kami alami hilang tanpa bekas. Saat sedang asyik berbincang, seseorang menghampiri kami dan berdiri di hadapan kami. Perbincangan terhenti seketika. Pandangan kami serentak tertuju pada orang yang ada di hadapan kami. Ternyata ia adalah bapak guru yang kemarin mengambil dan membawa pulang siputnya.

“Kalian yang kemarin hendak membuang siput di halaman depan sekolah bukan?” Tanyanya tanpa basa basi.

“Iya pak, benar. Memang apa yang terjadi pada siput tersebut?” Tanpa sadar pertanyaanku melayang.

Posisi bapak guru yang awalnya berdiri langsung duduk sejajar dengan kami dan memulai cerita. Ia berkata,” Siput tersebut masih hidup, hanya saja belum sempat saya buatkan tempat yang sesuai dengan gaya hidup siput. Kemarin pagi siput itu saya taruh di belakang rumah di atas pasir lembab, kemudian saya tinggal pergi mengajar. Ketika saya pulang, ternyata…”. Nadanya terpotong.

“Ternyata bagaimana pak?” Kata kami tidak sabar.

Akhirnya beliau melanjutkan cerita yang sempat terpotong tersebut. Pernyataan beliau membuat kami kaget, tak percaya. Siput itu telah hilang. Beliau mencoba menyakinkan kami bahwa itu benar-benar terjadi, ia pun bingung kemana larinya siput itu karena selama sehari penuh, dirumahnya tidak ada orang dan ia pulang lebih awal dari anak dan istrinya. Kecil kemungkinan jika tetangganya yang mengambil karena dibelakang rumahnya terlindungi oleh pagar setinggi bahu orang dewasa, seandainya benarpun menurutnya hartanya lebih berharga dari siput itu. Aneh.

Angin yang tadinya berhembus sejuk, tiba-tiba terasa terhenti. Hawa panas menyusup kedalam jasad kami. Terbukti ada temanku yang memegang kipas dan mengayunkannya ke kanan lalu ke kiri. Akhirnya aku pun terdorong untuk menceritakan kejadian yang kami alami. Mencoba mengaitkannya dengan uang seribu yang telah kami buang. Kemarin kami membuangnya, dan kemarin juga siput itu hilang. Sungguh teka-teki yang tak dapat kami selesaikan, pikiran kami tak cukup untuk menjangkau ke dunia lain.

Kemudian beliau meluncurkan sejurus nasehat kepada kami. Kami terpekur mendengarnya, dalam hati rasa bersalah itu kembali muncul. Kami sudah berjanji untuk tidak mengulanginya. Dalam hati ku berharap, semoga hari esok menjadi lebih baik dari hari ini.

***

21 Jun 2010

Belajar itu mudah kalau suka

Author: nurhasnif09 | Filed under: Tinta special for u

belajar itu mudah yah, kalau sudah suka ma satu bidang pasti ditekuni…
😀
asal ga terpaksa,

berbagai macam training dibentuk untuk meningkatkan semangat belajar, motivation training pun sudah menjamur di negeriku. kau tahu itu?
tetapi itu hanyalah sebuah fasilitas..yang mendorong minat kita untuk melakukan sebuah hal yang bermanfaat tentunya “belajar”.
jika tak ada respon balik dari pikiran kita, Insya Allah dah gak akan masuk tuh training macam apapun…
so, hal yang perlu dilakukan adalah melakukan apa yang kita cenderungi, misal: ada yang suka nge-game, mulai belajar membuat game sendiri, atau ada yang suka nulis, mulai belajar nulis di koran atau majalah, ..
semua media bisa gunakan kalau kita mau.
jangan malu takut jelek karyanya atau takut ga dinilai ++++, karena kreatifitas tiap manusia itu berbeda.
so, PD aja.
selanjutnya, konsultasikan dengan orang yang kamu kira bisa membantu mengembangkan bakatmu…

bersama-sama…
aku, kamu dan kalian semua , yuk searching and find your creation!!!
SEMANGAT!!!

15 Jun 2010

Ayo Mengaji

Author: nurhasnif09 | Filed under: Tinta special for u

Dalam hadits disebutkan

“Sebaik-baik kesibukan adalah membaca Al-Qur’an”

kemudian,

“Sebaik-baik pahala adalah orang yang mngajari dan mmpelajari Al-Qur’an….”

haditsnya saya lupa, siapa periwayatnya …tetapi insya Allah shahih.

nah, ini kesempatan bagi teman-teman mahasiswa Diploma IPB, Al-Ghifari dan Forum Rohis mengadakan kegiatan pekanan “QC”, apa tuh…yaitu Qur’an Course.

disini temen” bisa belajar dan memantapkan bacaan Al Qur’an, insya Allah pengajarnya berpotensi dan hafidz(penghafal Qur’an). Mungkin ada yang belum bisa , atau lupa karena ga pernah di baca. hehe…Tmen” ga perlu malu, kita disini juga masih belajar…

daripada nanti kan kalo udah punya anak/cucu, trus kitanya ga bisa ngaji, sholat aja sering lupa, haduh berabe tuh kalo begitu. ya gak?

makanya temen” semua pada gbung nyooookk…ini ga khusus buat yg jilbaban doank tapi juga buat yg ga pake jilbab, yg sexi jg boleh, asal muslim…yang pnting pas ngaji pkaian sopan atuh..

bagi yang cowok juga ade…eh ada…tapi saya kurang tahu tuh kapan aja.

begitu. ini mah cuma info aja, kegiatannya sudah berlangsung beberapa pekan yang lalu.

mau tahu ngapain aja sihhh?

nanti bikin BT, sebel, ga enak, malu…

oh tnang…kita kan mulai mengkaji al-Qur’an …semua ttg Al Qur’an…

mengeja huruf hijaiyah, peserta akan di minta mengucap huruf hijaiyah(huruf arab: a, ba, ta, tsa…..dst)

nanti akan kalau pengucapannya salah, langsung deh di ajarin cara,mengucap yang benar..

Loh kenapa gitu?emang penting ya>

PENTING banget loh…kalau pas kita baca Al -Qur’an trus salah ngucap huruf bisa merubah sifat huruf…ga baik itu.

kalo ada yang minat, atuh bisa langsung ke Al Ghifari ..tiap harinya ada jam 4 – 6 sore (kalu pengajarnya ga ada halangan)

mmm….Berapa biayanya???
owh, jangan khawtir kawan, murah meriah kok…harga mahasiswa. kalo keberatan juga bisa di nego(haha…), coba langsung datang dan tanya saja….okeh? sippp?

sippp…….kalo ga jelas…comment ajah disini,,,gratiss.

15 Jun 2010

Solusi Chatting di mIRc

Author: nurhasnif09 | Filed under: Tinta special for u

SeMangat Pagi !!!

Assalamu’alaikum….

saya ingin sedikit berbagi dengan ilmu yang saya punya. semoga bermanfaat…

bagi kamu-kamu yang suka chatting terutama di mirC, kemudian mengalami kesulitan mengkoneksinya. So, ikuti langkah-langkah di bawah ini….NB:bagi yang sudah tahu, senyum ajja…^_*

gini deh..,
the first, kamu buka software mirC, mau berapapun versinya, terserah…

ok siap ??

setelah itu, akan keluar semacam table options mIRC yang berisikan full name, dll..

nah, isi aja optionsnya:

full name dan email address di kasih titik-titik(.) aja..misal: 5 titik

nah, yg nick name kamu isi apa aja, mw kucing apapun dah..yang alternatif boleh sama dengan nick name boleh juga beda, “namanya juga alternatif”

upz, jangan di connect dulu…coba lihat servernya, kalo udah ada yalangsung deh di connect…

……

gimana? udah connect?

pasti ada yang udah dan ada yang belum…

yang udah connect, selamat chatting..

tetapi kalo yang belum, hayu ikuti lagi langkah jitu berikut ini:

kamu ketik aja di windows mIRCya…

//server irc.allnetwork.org

stelah itu klik enter pada keyboard notebook/pc mu ….

tunggu…

tunggu berapa menit…ya sekitar 2 menitlah….

successs…..

SELAMAT CHATTING…semoga bermanfaaat.

jangan lupa setelah baca tulisan ini, comment yaa…thank you kawan, spasiba balshoi, syukron,….

😀

13 Jun 2010

SEMANGAT

Author: nurhasnif09 | Filed under: Tinta special for u

semangat baru dengan blog baru,
ayo menulis!!!!

bit torrents lotus karls mortgage calculator mortgage calculator uk Original premium news theme